Benarkah Yahudi dan Nasrani tidak rela dengan Islam? Tafsir ayat wa lan tardha (QS 2: 120)

Inilah ayat yang populer dipakai untuk menjadi dasar hubungan umat Islam dengan non-Muslim. Ayat ini sering dikelirupahami sehingga setiap ada ketegangan antara umat, maka ayat inilah yang dipakai sebagai rujukan. Tapi bagaimana sebenarnya maksud ayat ini:

QS al-Baqarah 120. “orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti millah mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah Itulah petunjuk (yang benar)”. dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, Maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu”



Ayat ini sebenarnya ditujukan khusus untuk Nabi Muhammad dengan penggunaan dhamir “ka” (kamu/engkau). Ini berarti ayat ini tidak dimaksudkan untuk semua umat Islam atau ketidaksukaan Yahudi dan Nasrani itu ditujukan kepada agama islam. Yahudi dan Nasrani yang dimaksud juga terbatas sesuai asbabun nuzul ayat ini, bukan semua Yahudi dan Nasrani.

Kata millah dalam teks al-Qur’an di atas dipahami berbeda-beda oleh para mufassir. Imam al-Thabari menafsirkan millah dengan agama, maka begitulah terjemah al-Qur’an versi Kemenag mengartikan millah. Akan tetapi Tafsir al-Baghawi mengartikannya sebagai al-Thariqah, yaitu jalan. Maka yang dikehendaki non-Muslim itu adalah agar Nabi Muhamad mengikuti jalan mereka (bukan mengikuti agama mereka). Jalan dalam hal apa? dijelaskan lebih lanjut di bawah ini.
Tafsir Ibn Katsir hanya mengutip sepotong penjelasan dari Imam Thabari, jadi sebaiknya kita langsung merefer kepada kitab Tafsir al-Thabari, yang menjelaskan bahwa maksud ayat ini adalah:
Nabi Muhammad diminta fokus untuk mengharapkan ridha Allah, dan tidak perlu mencari-cari cara untuk menyenangkan Yahudi dan Nasrani. Apa yang Nabi dakwahkan kepada mereka itu akan mereka tentang karena antara mereka sendiri saling tidak cocok. Nasrani tidak cocok dengan Yahudi, begitu pula sebaliknya. Apa yang Nabi Muhammad dakwahkan pada mereka itu adalah jalan untuk berkumpul bersama dalam kasih sayang di bawah naungan Islam. 
Yahudi dan Nasrani tidak dapat bertemu untuk rela padamu wahai Nabi kecuali kalau kamu menjadi seorang Yahudi atau seorang Nasrani. Dan hal itu tidak mungkin. Karena kamu adalah pribadi yang satu. Tidak mungkin kamu menjadi keduanya yang saling bertentangan itu. Jadi, carilah ridha Allah semata dan tidak perlu risau dengan mereka yang tidak rela denganmu.
Tafsir al-Baghawi menceritakan asbabun nuzul ayat ini, biar lebih jelas bagi kita apa peristiwa yang membuat non-Muslim tidak senang dengan jalan yang ditempuh Nabi Muhammad.
Mereka (Yahudi dan Nasrani) meminta Nabi untuk melakukan gencatan senjata dan mereka berjanji akan ikut Nabi. Maka Allah menurunkan ayat ini. Maksud ayat ini adalah: Apabila kamu (Muhammad) melakukan gencatan senjata mereka selamanya tetap tidak akan senang dengan kamu. Mereka meminta gencatan senjata itu hanya sebagai alasan bukan tanda mereka rela kecuali kamu ikut jalan mereka. 
Ibnu Abbas berkata: ini dalam kasus Kiblat di mana Yahudi Madinah dan Nasrani Najran mengharap pada Nabi agar ketika shalat menghadap kiblat mereka. Ketika Allah memindahkan kiblat umat Islam ke Ka’bah mereka menjadi putus asa untuk mengharapkan Nabi agar setuju pada kiblat mereka. Maka Allah menurunkan ayat (2:120) ini.
Untuk itu Ibn Abbas mengkhususkan bahwa yang tidak suka selamanya dengan Nabi itu terbatas pada Yahudi di Madinah dan Nasrani di Najran, bukan semua Yahudi dan Nasrani. 
Kesimpulan: ayat ini bukan berarti semua Yahudi dan Nasrani benci kepada umat Islam dan menginginkan kita untuk pindah ke agama mereka. Ayat ini sekedar memberitahu Nabi Muhammad untuk fokus dalam berdakwah mencari ridha Allah semata, bukan karena menginginkan kerelaan dari Yahudi di Madinah dan Nasrani di Najran. Ayat yang berupa reminder khusus kepada Nabi Muhammad ini sayangnya sekarang malah sering dipakai untuk menyerang pihak lain.
Wa Allahu a’lam
Tabik,
Nadirsyah Hosen

Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia dan New Zealand

Lampiran teks asli bahasa Arab dari 3 kitab tafsir:
Tafsir al-Thabari:
قال أبو جعفر: يعني بقوله جل ثناؤه: (وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ) ، وليست اليهود، يا محمد، ولا النصارى براضية عنك أبدا، فدع طلب ما يرضيهم ويوافقهم، وأقبل على طلب رضا الله في دعائهم إلى ما بعثك الله به من الحق، فإن الذي تدعوهم إليه من ذلك لهو السبيل إلى الاجتماع فيه معك على الألفة والدين القيم. ولا سبيل لك إلى إرضائهم باتباع ملتهم، لأن اليهودية ضد النصرانية، والنصرانية ضد اليهودية، ولا تجتمع النصرانية واليهودية في شخص واحد في حال واحدة، واليهود والنصارى لا تجتمع على الرضا بك، إلا أن تكون يهوديا نصرانيا، وذلك مما لا يكون منك أبدا، لأنك شخص واحد، ولن يجتمع فيك دينان متضادان في حال واحدة. وإذا لم يكن إلى اجتماعهما فيك في وقت واحد سبيل، لم يكن لك إلى إرضاء الفريقين سبيل. وإذا لم يكن لك إلى ذلك سبيل، فالزم هدى الله الذي لجمع الخلق إلى الألفة عليه سبيل.

وأما”الملة” فإنها الدين، وجمعها الملل

Tafsir al-Baghawi:
قَوْلُهُ عَزَّ وَجَلَّ: وَلَنْ تَرْضى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصارى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدى، وَذَلِكَ أَنَّهُمْ [كَانُوا يَسْأَلُونَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلّم الهدنة ويطمّعونه أَنَّهُ إِنْ أَمْهَلَهُمُ اتَّبَعُوهُ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى هَذِهِ الْآيَةَ، مَعْنَاهُ أنك وإن هَادَنْتَهُمْ فَلَا يَرْضَوْنَ بِهَا، وَإِنَّمَا يَطْلُبُونَ ذَلِكَ تَعَلُّلًا وَلَا يَرْضَوْنَ مِنْكَ إِلَّا بِاتِّبَاعِ مِلَّتِهِمْ، وَقَالَ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: هَذَا فِي الْقِبْلَةِ، وَذَلِكَ أَنَّ يَهُودَ الْمَدِينَةِ وَنَصَارَى نَجْرَانَ كَانُوا يَرْجُونَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ كَانَ يُصَلِّي إِلَى قِبْلَتِهِمْ، فَلَمَّا صَرَفَ اللَّهُ الْقِبْلَةَ إلى الكعبة أيسوا منه أَنْ يُوَافِقَهُمْ عَلَى دِينِهِمْ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى: وَلَنْ تَرْضى عَنْكَ الْيَهُودُ، إِلَّا بِالْيَهُودِيَّةِ، وَلَا النَّصَارَى إِلَّا بِالنَّصْرَانِيَّةِ، وَالْمِلَّةُ الطَّرِيقَةُ

Tafsir Ibn Abbas:
وَلَنْ ترْضى عَنكَ الْيَهُود} يهود أهل الْمَدِينَة {وَلاَ النَّصَارَى} نَصَارَى أهل نَجْرَان {حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ} دينهم وقبلتهم {قُلْ} يَا مُحَمَّد {إِنَّ هُدَى الله هُوَ الْهدى} أَي دين الله هُوَ الْإِسْلَام وقبلة الله هِيَ الْكَعْبَة {وَلَئِنِ اتبعت أَهْوَآءَهُمْ} دينهم وقبلتهم {بَعْدَ الَّذِي جَآءَكَ مِنَ الْعلم} من الْبَيَان أَن دين الله هُوَ الْإِسْلَام وقبلة الله هِيَ الْكَعْبَة {مَا لَكَ مِنَ الله} من عَذَاب الله {مِن ولي} قريب ينفعك {وَلَا نصير} انع يمنعك

Jawaban atas pertanyaan: kalau ayat itu ditujukan kpd Nabi, apakah al-Qur’an tidak lagi berlaku umum untuk umat Islam?

saya jawab sebagai berikut:
Ada ayat yang diturunkan merespon satu peristiwa di jaman nabi: pertanyaannya apakah ayat itu bisa dipahami utk semua orang atau khusus utk peristiwa itu saja. Ini bahasan yang sudah dijelaskan para ulama dalam bidang ulumul qur’an. Untuk lengkapnya monggo dirujuk kepada kitab2 ulumul qur’an dan qawa’id tafasir.
Jumhur ulama berpatokan pada kaidah keumuman lafaz, bukan pada kekhususan persitiwa. Namun syaratnya ayat tsb harus memakai lafaz umum. Ulama yg lain berpatokan sebaliknya: al-ibrah bi khususis sabab la bi umumil lafz.
Bagaimana kalau lafaznya khusus ditujukan kepada Nabi? Para ulama melihat apakah ada indikasi (qarinah) utk nabi saja atau utk umatnya? Misalnya dalam qs al-tahrim ayat 1 ditujukan kpd Nabi, tapi di ayat selanjutnya digunakan lafaz umum. Maka ini indikasi hukum yg dikandung ayat tsb ditujukan juga utk umat.
Namun ada kalanya ayat tsb memang khusus utk Nabi, khususnya dalam kaitan dg tugas kenabian beliau. Misalnya ketika al-a’raf 158 meminta nabi mengumukan beliau sbg rasul. Tentu ini khusus utk nabi, masa semua org boleh ngaku jadi rasul. Begitu juga ayat yg bilang nabi diutus sebagai rahmatan lil alamin maka ini khusus utk nabi. jadi, indikasinya adalah kalau ayat yg ditunjukan kpd nabi berkenaan dg tugas kenabian maka itu khusus utk beliau. Begitu juga ayat yg khusus utk ditujukan kepada beliau misalnya soal larangan beliau menambah istri baru yg disebut dalam surat al-ahzab. Ini khususiyah utk nabi. Jadi, intinya yg berkenaan dg pribadi dan tugas kenabian maka ayat tsb hanya berlaku utk nabi.
QS 2: 120 di atas berkenaan dg tugas kenabian beliau dimana allah memberi tahu beliau utk tidak usah mencari kerelaan yahudi dan nasrani tapi fokus mencari ridha allah.
Penggalan pertama ayat di atas ” orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti millah mereka” khitabnya jelas ditujukan kepada nabi, makanya tafsir al-Thabari jelas-jelas merefer kepada Nabi:
، وليست اليهود، يا محمد، ولا النصارى براضية عنك أبدا، فدع طلب ما يرضيهم ويوافقهم، وأقبل على طلب رضا الله في دعائهم إلى ما بعثك الله به من الحق

sementara baru pada penggalan yang ini…”dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka …” Tafsir al-Baghawi menjelaskan di sini terjadi perubahan khitab, yaitu untuk nabi dan umat Islam.

وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْواءَهُمْ، قِيلَ الْخِطَابُ مَعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْمُرَادُ بِهِ الْأُمَّةُ 

demikian penjelasan tambahan dari saya. Wa Allahu a’lam bi- ash-shawab

Tujuh

  

Ada tujuh aturan utama dalam hidup. Yuk kita simak di hari Jum’at ini, siapa tahu ada Khatib Jum’at yang mau bahas ini nanti :) 

Pertama, berdamailah dengan masa lalu. Mungkin kita pernah kecewa dengan berbagai peristiwa di masa lalu yang menyesakkan dada, namun hanya dengan berdamai pada masa lalu, kita bisa menatap masa depan. Memaafkan yang sudah berlalu, mensyukuri yang kita jalani hari ini, dan berdoa penuh harap untuk masa depan yang lebih baik.

Kedua, hidup kita akan merana kalau kita terlalu fokus pada komentar orang. Selalu ada cacat, cela atau kesalahan kita di mata orang lain. Kita tidak sempurna. Tapi mereka yang komen macem-macem itu juga tidak sempurna kan? Kita tidak bisa mengontrol apa komentar orang lain, yang bisa kita kontrol adalah respon kita terhadap komentar mereka. Mari kita jaga kontrol diri dan tetaplah fokus pada tujuan hidup kita: li i’lai kalimatillah.

Ketiga, banyak persoalan yang hanya bisa selesai seiring dengan berjalannya waktu. Rasulullah diberi wahyu dan butuh 23 tahun untuk berdakwah, itupun diselingi hijrah. Kita gak punya wahyu, dan kita tidak berani hijrah, terus mau menyelesaikan semua persoalan dalam semalam? Waktu jua yang akan menyembuhkan luka. Percayalah.

Keempat, hidup ini adalah pilihan. Kita mau bahagia atau tidak, kita lah yang akan menentukannya. Kalau kita tidak bisa menyelesaikan masalah, maka ubahlah cara pandang kita terhadap masalah itu. Tidak usah dilawan, tapi dijalani dan mengalir saja….di situ kita akan temukan kebahagiaan. Bahagia bukan tanpa masalah, tapi bahagia bersama masalah.

Kelima, penyakit yang paling parah adalah kalau kita sudah iri hati dengan hidup orang lain. Dan itu dimulai dengan membandingkan rumput kita dengan rumput orang lain yang seolah lebih hijau. Iblis dilaknat karena sebab membandingkan dirinya dengan Nabi Adam. Berhentilah membanding-bandingkan. Setelah membuat perbandingan biasanya kita akan men-judge hidup orang lain. Semua orang punya medan pertarungannya masing-masing. Everyone has their own struggle that you know nothing about. Respect. Always. Berhenti membandingkan hidup anda dg yang lain, dan berhentilah menghakimi hidup orang lain. Fokus saja pada hidup anda yang sebenarnya sangat indah itu.

Keenam, berhentilah berpikir terlalu banyak. Satu-satu saja yang dihadapi, jangan semuanya mau diselesaikan dan dipikirkan jawabannya saat ini. Terlalu banyak berpikir, hati kita akan tumpul untuk ikut terlibat dalam menemukan solusi. Dalam hidup ini tidak mengapa kalau kita tidak tahu semua jawaban. Pada saatnya kelak akan terurai semuanya. Kontrol pikiran kita. Buat skala prioritas. Dan jangan khawatir, teruslah berjalan meski hanya dalam angan.

Ketujuh, tersenyumlah. Mulailah hari-hari dengan optimis. Kalau hidup memberi anda dua-tiga masalah, anda masih bisa menemukan seribu macam alasan untuk tetap tersenyum. Lihatlah cerahnya mentari, lihatlah senyum anak-anak kita, lihatlah kita yang masih bisa bernafas, dst. Ketika agama mengajarkan bahwa tersenyum itu termasuk ibadah, ini karena banyak orang yang sudah sulit tersenyum, entah karena merasa dunia sudah rusak atau karena merasa dirinya yang rusak. Perbaiki kerusakan dunia dan kerusakan hati kita dengan tersenyum, saat ini juga :) 

Maaf yah ini gak ada ayat dan hadisnya: tapi bukankah hidup tidak cuma soal dalil? Maaf pula ini gak ada daftar referensinya: tapi bukankah hidup tidak bisa diukur oleh daftar pustaka? 

Lha nulis status facebook santai kayak gini kan gak ada honornya, masak masih minta dalil dan referensi. Piye to Jal?!🙂 Yang mau share silahkan share, toh sama-sama gak ada honornya heheheh (tapi kalau ini jadi materi khutbah jumat pasti ada honornya!)

Met Jumatan. Semoga keberkahan mengalir untuk kita semua. Amin Ya Allah.

Melbourne, 13 November 2015

Nadirsyah Hosen

Murni

Kaisar Leo III yang berkuasa pada pertengahan abad kedelapan Masehi di Byzantium murka besar. Kekalahan pihak Kristen terhadap Islam, menurutnya, karena umat Kristiani tidak lagi menyembah Tuhan secara murni. 

Alih-alih beribadah secara murni, mereka telah menaruh wajah Yesus dalam bentuk gambar, patung, dan kreasi seni lainnya. Sang Kaisar juga menuduh bahwa umat Kristiani telah menyembah selain Yesus seperti para Wali (Saint) yang juga menjdi objek karya seni pada masa itu. Menurut Leo ini berbeda dengan kelompok Islam yang mengharamkan segala macam bentuk gambar dan patung. Ketidakmurnian Kristen kalah oleh kemurnian Islam. Mulailah Kaisar Leo III memerintahkan untuk menghancurkan segala macam bentuk gambar dan patung. Inilah periode yang dinamai oleh sejarawan sebagai Iconoclasm di Byzantium.

Pangkal muasalnya memang soal ekspresi keberagamaan. Sejauhmana gambar dan patung memiliki atribut keilahian. Salah satu perintah dalam Ten Commandments jelas melarang untuk menyembah berhala. Ada pesan Tauhid yang kokoh dalam tradisi 3 agama besar (Yahudi, Kristen dan Islam). Namun sekali lagi, sejauhmana ekspresi keberagamaan dalam bentuk seni dan patung diharamkan?

Dalam tradisi Islam, Tuhan disembah tanpa perantara. Tidak ada ‘penampakan’ dalam bentuk apapun karena kekhawatiran akan penyimpangan tauhid. Wajah Nabi Muhammad pun menjadi sesuatu yang sakral untuk bisa dituangkan dalam karya seni. Tapi bagaimana dengan objek lainnya selain Allah dan Nabi? Bolehkah? Ketika Islam tersebar di luar jazirah arabia, Islam mulai bersentuhan dengan budaya non-arab seperti Parsi di Iran, Hindu di India serta Kristen-Eropa di Spanyol dan Italia. Bukan saja mulai terjadi pemisahan antara mana budaya Arab dan mana inti ajaran Islam, tapi lambat laun juga mulai terjadi dialog antar peradaban. Ekspresi Islam menjadi warna-warni, meski tauhid tetaplah sama dan menjadi harga mati. 

Beberapa abad selanjutnya sejarah mengungkapkan bagaimana kerajaan Islam mulai tumbang, dan perlahan pengaruh Islam mulai menyusut. Di penghujung abad delapan belas para pemimpin umat Islam bertanya-tanya: “kenapa kami sekarang kalah oleh Kristen?” Muhammad bin Abdul Wahab punya jawaban yang mirip dengan Kaisar Leo III di abad kedelapan: “kita kalah karena kita tidak lagi murni dalam menyembah Tuhan”.

Maka gerakan pemurnian Tauhid dalam tubuh umat Islam dimulai di awal abad ke-19. Gerakan ini hendak mengembalikan kejayaan Islam dengan melakukan pemurnian ibadah seperti kaum terdahulu (salaf). Mereka menyebut diri mereka dengan Salafi –pihak luar menyebut mereka Wahabi. 

Wahabi inilah yang kemudian, persis seperti gerakan Iconoclasm Kaisar Leo III, menghancurkan semua ekspresi keagamaaan yang dianggap tidak murni Islam, dari mulai makam Wali yang dihancurkan, patung bercitarasa seni tinggi dirubuhkan, melarang gambar yang bernyawa, sampai semua praktek keislaman yang dianggap bid’ah. Wahabi menghancurkan 3/4 sejarah peradaban Islam, yang tersisa cuma Quran dan Hadis plus tentu saja minyak di gurun Arab sana. Meskipun mereka naik Toyota, tapi isi otak mereka mirip dengan Onta. 

Namun seperti Iconoclasm yang terjadi pada abad kedelapan di Gereja Timur yang kemudian mendapat perlawanan dari Gereja Barat, gerakan pemurnian ala Wahabi juga serentak menimbulkan resistensi dari berbagai penjuru dunia Islam. Alih-alih hendak memajukan Islam, Wahabi dianggap telah memundurkan Islam empat belas abad ke belakang. 

Gejala yang sama terjadi di tubuh Kristen dan Islam saat ini: gerakan pemurnian berubah menjadi gerakan fundamentalis. Mereka yang merasa dirinya murni, tentu saja akan menganggap orang yang tidak sepaham sudah kotor alias tidak murni lagi. Mereka sibuk hendak memurnikan orang lain. Mereka terus menakut-nakuti bahwa yang tidak murni akan masuk neraka. Bagi mereka, Tuhan itu pemarah dan gampang tersinggung lantas gemar menghukum –persis seperti kelakuan mereka.

Di pihak lain, mereka yang dianggap sudah tidak murni malah bisa bersikap akomodatif terhadap budaya dan tradisi orang lain. Bagi mereka, keimanan dan Tauhid tidak akan tergerus hanya karena mengeskpresikannya dalam bentuk nyanyian, syair, gambar, foto, lukisan, patung atau drama. Tuhan itu Indah. Menikmati keindahan karya seni justru semakin mendekatkan diri kita pada Tuhan. Tuhan itu ramah dan ampunanNya melampaui amarahNya. 

Di era sosial media saat ini, berlaku kaidah “No Picture = Hoax”. Buktikan kebenaran itu dengan gambar. Tanpa menunjukkan gambar, info yang anda berikan akan dianggap sampah. Saya merenung, jangan-jangan di era sosial media ini paham yang melarang ekespresi keagamaan dalam bentuk Ikon/gambar (baik foto, patung atau lukisan) akan dianggap paham yang hoax. Alih-alih dianggap murni, mereka boleh jadi dianggap pantas masuk ke dalam folder spam. Entahlah.

Nadirsyah Hosen

Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama

Australia – New Zealand

  

Pendidikan Agama

Bagaimana menjelaskan seorang yang naik haji dengan uang korupsi? Seorang yang rajin sholat tapi gemar berdusta? Atau seseorang yang rajin berpuasa tapi bersikap rasis? dan bagaimana pula menjelaskan mereka yang gemar bersedekah tapi menyetujui tindakan kekerasan terhadap orang yang berbeda paham?

Bukankah agama seharusnya membuat kita menjadi pribadi yang baik; baik saat berada di rumah ibadah, atau di jalan raya; baik sedang kumpul di pengajian atau sedang berkerja di kantor; pendek kata dimanapun kita berada? Tapi kenapa kenyataannya tidak seperti itu? 

Penelitian terbaru menguatkan kekhawatiran kita di atas. Semakin relijius seorang anak, maka semakin tinggi egonya; anak-anak yang dibesarkan dalam pendidikan agama semakin tidak toleran dan bahkan menyetujui tindakan kekerasan fisik.

Penelitian yang dilakukan Professor Jean Decety, seorang neurosaintis dari University of Chicago ini mengejutkan kita semua. Peneltian yang melibatkan 1170 anak berusia 5-12 tahun dari 6 negara (USA, Canada, China, Jordan, Turkey and South Africa) telah diterbitkan di jurnal Current Biology. 

Dalam peneltiian itu, setiap anak diberi 30 sticker dan diminta untuk membagikannya kepada anak lain yang mereka tidak kenal dan berasal dari sekolah dan etnik yang sama. 1170 anak yang terlibat berasal dari agama Kristen (24%), Muslim (43%) dan tidak beragama (28%). Hasilnya? Mereka yang tidak beragama lebih banyak berbagi sticker, diikuti anak-anak Kristen dan baru kemudian anak-anak Muslim. Ini artinya, anak-anak Kristen dan Muslim ternyata bisa dibilang kalah dermawan dibanding anak-anak yang dibesarkan oleh keluarga yang tidak beragama. 

Berikutnya, anak-anak itu diminta memberikan penilaian terhadap mereka yang secara agresif mendorong atau menyenggol anak lain. Hasilnya? Anak-anak Muslim lebih banyak yang percaya akan hukuman yang lebih keras ketimbang anak-anak Kristen. Secara umum, anak-anak yang dibesarkan dalam tradisi agama yang ketat baik itu Muslim maupun Kristen ternyata menoleransi hukuman yang keras ketimbang anak-anak yang dibesarkan oleh orang tua yang ateis.

Ini artinya, mengajarkan agama ternyata tidak sama dengan mengajarkan moral. Anak-anak Kristen dan Muslim diajarkan agama, sedangkan anak-anak Ateis diajarkan moral. Hasilnya, anak-anak Ateis dianggap lebih bermoral, lebih santun, dan lebih dermawan.

Professor Decety menjelaskan bahwa kondisi ini terjadi karena ‘lisensi moral’ yaitu orang beragama cenderung menjustifikasi tindakan buruk mereka dengan alasan mereka sudah berbuat baik di mata agamanya, seperti rajin ke gereja dan ke masjid. 

Mungkin di Indonesia kita bisa melihat fenomena ini: karena saya rajin tahajud, maka saya boleh korupsi. Karena saya dekat dengan Tuhan, maka saya boleh menistakan orang yang tidak rajin beribadah.

Sekali lagi, penelitian ini sangat kontroversial, dan kita harus menunggu penelitian berikutnya untuk memperkuat atau membantahnya. Nah, sambil menunggu, ada baiknya kita merenung kembali:

benarkah semakin relijius kita, semakin membuat kita pelit, jutek, senang dengan kekerasan dan suka menghakimi orang lain?  

Jika iya, maka tentu ada yang keliru dalam cara kita beragama dan mengajarkan agama kepada anak-anak kita.
salam hangat,

Nadirsyah Hosen

ps.
Reportase penelitian tersebut bisa dibaca di http://www.forbes.com/sites/jvchamary/2015/11/05/religion-morality/

wajah

Wajah adalah cermin jiwa –sesuatu yang tidak bisa ditutupi meski dipoles dengan bedak dan gincu. Perubahan raut wajah, baik senang ataupun susah, akan bisa terlihat. Mereka yang kehilangan jati dirinya disebut sebagai kehilangan muka atau wajah. Itulah sebabnya saat kita ber-wudhu bukan sekedar wajah lahiriah kita yang sedang kita bersihkan, tapi juga wajah batiniah kita agar tak sering kita kehilangan wajah kita. 
Dalam surat al-Ghasiyah diceritakan bahwa kelak di akherat ciri orang yang masuk neraka terlihat jelas di wajah mereka. Banyak wajah yang tertunduk hina (wujuhun yaumaidzin khasyiah). Merekalah wajah-wajah yang akan digiring masuk api neraka. Ini berbeda dengan kelompok lain yang wajahnya berseri-seri (wujuhun yaumaidizn na’imah). Dari wajahnya saja kita tahu bahwa ini calon penduduk surga. Itulah wajah manusia kelak di akherat.

Ada juga yang berwajah dua: dzul wajhain. Ini biasanya dilukiskan dengan mereka yang memiliki sifat munafik: kalau berkata, ia berdusta; kalau berjanji, ia mengingkari; dan kalau diberi amanah, ia berkhianat. Ini mereka yang selalu menyembunyikan wajah aslinya, ke satu pihak ia sorongkan satu wajahnya dan ke pihak lain ia kedepankan wajah yang berbeda. Ia memiliki wajah yang tampil di publik, dan wajah yang dipakai di ruang privat. Alih-alih bersikap apa adanya, ia malah bersikap mengada-ngada. Bukannya bersikap apa adanya, gerak geriknya malah mengundang tanya ada apanya. Mereka yang berwajah ganda alias bermuka dua tidak akan henti-hentinya mengeluarkan berbagai jurus akal bulusnya. Tidak ada ketulusan dalam tutur kata dan sikap perbuatannya. Kalau bahasa Arab mengenal istilah dzul wajhain, bangsa kita malah mengenal istilah dasamuka alias berwajah sepuluh. Kalau punya kawan yang berwajah dua saja sudah bikin kita pusing, bagaimana kalau punya karib-kerabat yang berwajah sepuluh?

Dalam satu riwayat dikisahkan para sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW: “Karib seperti apa yang baik untuk kami?” Rasulullah SAW menjawab, “Yakni apabila kalian memandang wajahnya, maka hal itu mengingatkan kalian kepada Allah.” Ternyata ada manusia yang wajahnya dapat memgingatkan kita pada Allah. Itu artinya, wajah mereka merupakan pantulan cahaya “wajah” ilahi. Subhanallah!

Dalam riwayat lain, ketika turun Surat al-An’am: 65, Nabi berseru sampai dua kali: “aku berlindung dengan wajah-Mu (a’udzu bi wajhika)”. Kenapa demikian? karena semua akan sirna kecuali “wajah” Allah. (QS 55:26-27; QS 28:88; Qs 18: 28). maka sebaik-baik perlindungan adalah meminta perlindungan dengan “wajah” Allah yang kekal. Maka hadapkanlah wajah kita kepada “wajah” Allah, baik ke timur maupun ke barat semuanya ada “wajah” Allah (QS 2:115). Nabi Ibrahim pun berseru, “Inni wajjahtu wajhiya lilladzi fatar-as-samawati wal ard hanifan wama ana minal-musyrikin.” (QS 6:79) 

Karena kepunyaan Allah lah semua yang ada di Timur dan di Barat, Allah mengingatkan kita bahwa:

“Bukanlah menghadapkan wajah kamu ke arah Timur dan Barat itu merupakan suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir, dan orang-orang yang meminta-minta, dan memerdekakan hamba sahaya, melaksanakan shalat secara sempurna, dan menunaikan zakat, dan orang-orang yang menepati janji mereka apabila mereka berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya) dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa” (QS 2:177)

Sekedar menghadapkan wajah kita ke Timur dan Barat itu mudah, bukan? Tapi kalau yang kita cari adalah “wajah” Allah, maka butir-butir kebajikan pada ayat di atas layak untuk kita renungkan dan laksanakan. Semoga kelak wajah kita di akherat dapat langsung memandang wajah Allah –sebagai puncak kenikmatan seorang hamba. 

….wajahku dan wajahMu saling bermuwajahah

wajahku merona

wajahMu memesona
Clayton, 8 September 2015

Nadirsyah Hosen

Murid

Dua orang salik bertemu dan asyik berbincang-bincang. Seseorang yang dari tadi memperhatikan mereka berdua kemudian bertanya: “Di antara kalian berdua, mana yang sebagai mursyid dan siapa yang sebagai murid?” 
Yang berbaju hitam menjawab, “Saya lah murid dan yang disebelahku ini mursyid saya”. Yang berbaju putih menukas cepat: “Oh tidak, terbalik itu, saya lah murid dari guru saya ini”, sambil menunjuk yang berbaju hitam.

Yang berbaju putih meneruskan jawabannya: “Saya tidak pernah menganggap kamu sebagai murid saya. Sebaliknya saya belajar banyak dari obrolan kita soal Allah dan RasulNya”.

Yang berbaju hitam menoleh sambil tersenyum: “Saya tidak perlu dianggap sebagai murid atau tidak, saya tidak butuh pengakuan itu. Saya sudah mengangkat diri saya sendiri sebagai murid dirimu, terserah mau diakui atau tidak”.

Yang berbaju putih berkata lagi, “Tapi saya sudah duluan mengangkat dirimu sebagai guru saya, terserah kamu mau menerima saya sebagai murid atau tidak, Yang jelas kamu lah guru saya.”

Sebelum yang berbaju hitam kembali menjawab, orang yang bertanya tadi itu segera beranjak pergi meninggalkan keduanya. “Dua orang aneh,” pikirnya.

Kedua salik ini pun kemudian berpisah meneruskan perjalanan masing-masing. Yang berbaju putih mengirimkan surat ditujukan kepada yang berbaju hitam. Yang berbaju hitam menjawab surat tersebut sambil keheranan menanyakan, “Mengapa dalam suratmu semuanya ditulis dengan huruf kecil. Tidak ada huruf besar sedikitpun, lupakah kamu dengan kaidah penulisan yang baik dan benar?”

Yang berbaju putih menjawab surat itu: “saya sengaja menulis dengan huruf kecil karena bagaimana mungkin saya sanggup mencantumkan huruf besar dalam surat kepada guru saya? huruf besar adalah cermin keangkuhan diri. saya tak pantas melakukannya di depan anda meski hanya dalam bentuk tulisan”.

Lama tak ada jawaban dari yang berbaju hitam. Hingga suatu saat yang berbaju putih bermimpi menemui yang berbaju hitam, “Aduhai kemana gerangan dirimu? Saya kangen sekali. Mengapa tak kau jawab surat terakhirku?” 

Dalam mimpi itu sosok yang berbaju hitam menjawab, “Bagaimana mungkin sanggup ku tuliskan jawaban surat untuk dirimu yang ku anggap sebagai guruku. Semua aksara lenyap. Setiap huruf yang mau kutuliskan –baik huruf kecil maupun besar– hilang begitu saja. Jikalau aksara adalah perwakilan diri ini, seakan pena dan kertas tahu bahwa di depan sang mursyid tak ada lagi kata-kata yang layak disampaikan.”

Sejak saat itu, yang berbaju hitam dan yang berbaju putih, berkomunikasi dalam diam. Mereka memasuki keheningan. Tak ada kata-kata, tak ada aksara, tak ada suara. Tak ada lagi perdebatan. Tak ada lagi pertanyaan. Hanya hati mereka yang saling berkomunikasi.
Tuhanku, 

dalam diam, 

ku simak KalamMu

jauh lebih jelas dari aksara dan suara


dalam hening,

tinta QalamMu kembali berubah 

menjadi samudera kedamaian


hitam

putih

melebur dalam cintaMu
Monash, 16 September 2015

Nadirsyah Hosen

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.